Send As SMS

say it with crystal

this is about me, my days, my thoughts and my bead jewelry work. Some postings are in indonesian, and some are in english.

Dienstag, Juli 06, 2004

Why do we always hurt the one we love...

Tadi siang gue ngobrol sama teman gue, teman yang udah seperti saudara, kakak, bahkan ibu sendiri, sekaligus guru buat gue (dalam arti positif lho..). Sambil ngobrol ngalor ngidul, sampailah kita ke omongan atau lebih tepat pertanyaan, "kenapa sich justru orang2 yang paling kita sayang, kita perhatiin, justru suka nyakitin kita?", atau kalau bisa gue balikin, kenapa sich kita selalu nyakitin orang yang kitá sayang?. Makanya gue inget judul lagu ini, Why do we always hurt the one we love?.

Dulu banget, gue sempat mikirin jawaban atas pertanyaan serupa, waktu gue baru bubar sama pacar SMA, hahahaa..malu deh! :-).
Terus gue inget salah satu atau mungkin satu-satunya jawaban yang bisa gue temuin saat itu adalah, karena kita mengharapkan terlalu banyak dari orang yang kita sayang. Dan tadi sambil gue ngelonin anak-anak tidur, gue pikirin lagi tuh pertanyaan. Benar gak sich karena too 'great' expectation, makanya orang sering kecewa dan sakit hati.

Mungkin iya, tapi mungkin juga nggak. Tapi sampai saat ini gue cuma bisa temuin jawaban itu. Misalnya, antara orang tua dan anak. Ortu pasti sayang anak khan, at least sebagian besar yang merasa dirinya ortu pasti sayang sama anaknya. Makin dewasa anak, pasti adalah sedikit banyak, sikap dan sifat anak yang orang tua gak setuju, atau sebaliknya. Terjadilah friksi. Kualitas dan kuantitas friksinya itu sendiri tergantung individu masing-masing. Semakin besar friksi, semakin dalam efeknya. Terjadilah kecewa, sakit hati, marah. Dan kalau kita telaah, ortu yang marah sama anaknya karena apa? ya karena anaknya gak bisa menuhin yang diharapin ortunya. Ortunya mau si anak jangan pacaran dulu, kuliah sampai selesai dulu, baru lain2. Tapi karena si anak udah kadung jatuh cinta, gak didengerlah si ortunya. Padahal ortunya berharap kalau si anak mau dengar dan nurut sama ortunya. Kenyataan sebaliknya, si anak gak menuhin harapan ortunya. Atau dengan kata lain, ortunya berharap terlalu banyak dari si anak, sehingga akhirnya, dia kecewa sendiri pas dapatin kenyataan kalau si anak gak bisa menuhin harapan dia. Sementara dari pihak si anak sendiri, dia juga kecewa, marah dan sakit hati ke ortunya, karena mungkin ortunya dianggap nggak mengerti dia, jiwa mudanya dsb. Harapan si anak adalah si ortu mau mengerti dia dan kemauannya.